Tuesday, October 14th, 2008
White Thong Series.2
21 May 2007 | Pujangga baso | 6 Comments

Ah, sial.

Karena harus menjahit sendiri kancing di bolero, aku jadi berangkat telat lima menit. Tapi tau sendiri Jakarta di hari Senin, berangkat hanya telat 5 menit sampai bisa telat sejam..arrggh!

Untung saja kantorku sangat menghargai output, dan selamatnya juga, aku sampai 10menit sebelum rapat dimulai dengan materi yang sudah siap di tangan, hebat!

Setelah meletakkan materi dan membagikan kopian presentasi, aku langsung menuju kamar mandi. Presentasi bukan hanya masalah isi, tapi juga penampilan.

7 x 7 sama dengan empat sembilan, setuju gak setuju yang penting penampilan…-halah.

Eyeshadow hijau muda di garis mata membuat penampilan lebih segar, sesuai dengan warna bolero. Bubuhkan highlight putih yang tentu saja senada dengan white thong ini. Tinggal mengoles ulang blush on pure pink dan lipgloss peach. Perfect. Sudah beres semua, tinggal menghentakkan white thong 3x dan semua berjalan lancar.

Tok..Tokk..T..

Hampir masuk ke ketukan ketiga, kulihat Mey baru keluar dengan tampang kuyu. Please…jangan bilang kalau dia ditinggalkan Andri!

Sel, Andri mutusin gue.

Mey langsung mendekatiku sambil merebahkan kepalanya di bahu, seperti biasanya.

Dan gue cuma bisa nangis saat dia mutusin gue.

Bahu Mey bergetar. Dan aku menepuk bahunya tanda aku memang prihatin.

Kenalkan, Marsella Avanti, dipanggil dengan sebutan Mey. Sebut saja dia salah satu sahabatku, walaupun aku tidak mengerti apa sebenarnya konsep persahabatan. Tapi dengan Mey, aku bisa menjadi diri sendiri, seenaknya,dan merasa tidak sendiri. Mey adalah seorang perempuan yang benar-benar wanita. Lembut, manis, sensitif, tidak macam-macam, dan konsep ideal perempuan yang diinginkan laki-laki.

Bisa disuruh patuh.

Yang menurut aku adalah hal terbodoh dari seorang wanita.

Sebelum terbawa ke pembicaraan lebih jauh, kutepuk bahu Mey .

Say, gue ada presentasi sebentar lagi, kita lanjut nanti yah makan siang. Cheers up dong, gue juga baru putus kali, nek…hihi

Kataku sambil terkekeh-kekeh. Mata Mey langsung membulat diiringi sedikit senyum. Entah senyum sinis atau senyum tergelitik. Aku tak terlalu peduli yang penting kan sudah senyum.

Hah? Sakit jiwa, lu !, ucap mulut mungilnya.

Aku berlalu dengan langkah dipercepat, sebelum masuk ruang rapat, kurapikan kembali rambut dan boleroku.

Satu hentakan lagi, dan sukses.

Tokk.

————————-

-