




Mulutmu adalah harimau mu.
Pepatah yang sering didengar. Perumpamaan, bila mulut tidak bisa dijaga, akan membunuh orang lain, menyakiti, seperti harimau merobek-robek mangsanya.
Terutama di dunia kerja. Ada etika-etika pekerjaan, yang mengharuskan pegawainya untuk menjaga mulut, yang menyangkut kerahasiaan dan performansi dari suatu perusahaan. Lucunya, baru-baru ini ada kejadian di kantor yang karena mulut membuat seseorang terfitnah dan tercemar nama baiknya, sampai di sidang. Yang parahnya lagi, orang yang kena adalah klien perusahaan dari perusahaan lain.
Saya bahkan tidak habis pikir, yang mulutnya ember sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan yang orang itu lakukan. Dia mungkin hanya melihat orang tersebut dikasih amplop lalu cerita ke kerabatnya yang kebetulan dari perusahaan yang sama dengan orang yang difitnah tersebut. Karuan saja, dia disidang di kantornya, sampai telepon ke kantor saya nangis-nangis.
Padahal, dia dikasih amplop itu untuk biaya akomodasi survey, bukan untuk suap menyuap.
Dan penyebar berita bohong itu adalah Perempuan. Kerabatnya pun Perempuan. Lebih tepatnya Ibu-ibu.
Mulut perempuan memang gak bisa dijaga. Mulut perempuan bisa bikin kuburan untuk orang lain. Mulut nakal, mulut neraka. Mereka bahkan tidak sadar, kalau sedang bercerita yang seharusnya tidak diceritakan. Yang paling lucu adalah embel-embel, jangan cerita ke orang lain. Padahal dia sendiri yang menceritakan ke orang lain.
Mulut perempuan itu racun.
Makanya, saya paling males curhat sama perempuan.
Mulutnya selalu kepleset!

-








