




Suara ini,
Alokha.
Begitu bening seperti mata air dongeng Acoptus.
Membelah giselle seperti mata pisau megalion.
Alokha.
Ku begitu merindukan.
Yang tak terjamah, putih layaknya api gunung Cordus.
Dan dentingan Sherin
membuat getaran di ragaku dan aku menangis.
Hanya mendengar namanya,
ku bisa rasakan panasnya darah ini
tapi tetaplah beku
Alokha.
Yang tak tersentuh.
Yang membuatku yakin ada Penciptaan Maha Dahsyat dibalik sosok sempurna itu.
…
“Eve..”
Ah, dia menyadari kehadiranku. Ku balikkan badanku cepat sambil memainkan megalion menebas udara.
“Apakah itu senandung baru untuk Penguasamu? Sherin selalu hebat. Selalu.” , balasku untuk mengalihkan perhatian.
“Nafasku adalah senandung untuk Nya.” , jawabnya tenang.
Dia tersenyum, aku merasakannya, aliran udara menerpa wajahnya dan membawanya kepadaku.
“Kapan kau akan mengajariku bermain Sherin?” , tanyaku.
“Kapan pun. Panggil saja Aku!” , sahutnya ramah.
Sherin berasal dari puing-puing peninggalan kebudayaan Bumi. Sebuah kayu panjang dengan beberapa senar sejajar. Dimainkan dengan petikan jari-jari yang lincah, mengeluarkan suara yang bening sekaligus menyayat.
10 tahun yang lalu, Sherin dimiliki oleh Cu Fa, secara turun-temurun. Sayangnya, kehalusannya digunakan sebaliknya. Suara untuk membunuh, memekikkan telinga, dan merusak organ dari dalam, mengacaukan peredaran darah, lalu si pendengar dari hidung dan telingan akan mengeluarkan darah. Beruntungnya, dia menemukan Alokha. Walau harus ditukar dengan nyawa kedua orang tuanya.
Sekarang, Sherin suci dan bersenandung untuk damainya alam semesta. Untuk Penguasanya. Siapapun yang mendengar, yang jahat akan mendadak menjadi baik.
Yah. Tapi tentu saja tidak berlaku untukku.
“Aku tetap belum siap Alo hahaha…”
“Kamu selalu bertanya, tapi berakhir dengan jawaban itu. Kamu memang selalu aneh, Eve…”
Eve.
Namaku bukan Eve. Tapi dia sering memanggilku seperti itu.
Katanya, Eve adalah nama yang indah. Wanita pertama yang diciptakan oleh Penguasanya. Ibu bagi seluruh manusia yang ada di alam ini. Wanita yang diciptakan untuk memberikan keseimbangan dalam hidup. Siang dengan malam, panas dengan dingin.
Yah, aku memang tidak percaya dongeng. Tapi, Eve, memang terdengar indah. Terlebih lagi..
Alokha yang memeberikannya padaku.
“Sampai jumpa…” ku melompat turun ke lereng lalu meninggalkannya di Cahaya Ares.

13 Responses to ““Alokha” demonoid s.2”
while (bingung) {
print “kagak ngarti!!”;
}
ya.. begini ini efek dari seringnya pulang jam setengah sepuluh malem…
…. suka nganeh-nganehi… 
habis lewat perempatan mana ya…
ki ngopo toh mba?
kangen yah sm si yayang? *bletak*
lg sibuk bgt noh kayaknya 
ckckckhebat euy..keren dah
aku ga bisa tuh bermain sherin, gmn dong. yang lain aja yah, congklak kek.. atau lompat tali 
ini apaan sih ka?
:-p
Fiksi? hmmm.. maksud terselubung dari sebuah POST 
Leave a Comment











au ah gelap..
apaan si
teu ngartos aing