Tuesday, October 14th, 2008
Berpikir tentang Macet
30 August 2007 | Baso campur | 8 Comments

Pagi ini kesiangan lagi. Memang sih, bangun juga kesiangan, berangkat kesiangan, tapi mau berangkat jam berapapun tetap saya kena macet.

Jakarta kalau tidak macet, namanya bukan Jakarta.

Saya pernah menyimak, mencuri-curi dengar tepatnya, pembicaraan coffee break seorang ahli mengenai ini. Masalah transportasi yang ditunggangi dengan kebijakan politik serta ekonomi.

Sebagian besar proyek jalan di Indonesia, merupakan proyek dana bantuan dari Jepang. Baik rehabilitasi, rekonstruksi ataupun pembukaan jalan baru. Tapi sebagai timbal balik, produksi kendaraan bermotor dari Jepang merupakan yang masuk terbesar di Indonesia. Setiap tahun, produk-produk kendaraan bermotor dari negara tersebut masuk, tentunya tanpa pembatasan yang tepat.

Orang sekarang bisa kredit motor dengan DP yang murah, begitu juga dengan mobil. Jadi, akhirnya toh sama saja. Pembangunan prasarana yang ada tidak diimbangi dengan pembatasan sarana, mau sebanyak apapun pembangunan jalan, Jakarta akan tetap macet wong mobil dan motor tambah banyak jee…

Saya sendiri sih, lebih berharap pada peningkatan prasarana dan sarana angkutan massal. Seperti TransJakarta, jelas sangat membantu, tapi sayang hanya di dalam kota. Kami di Jabodetabek juga butuh feeder untuk sampai dalam kota. Andai bis kota dan patas diperbaharui bukan bis-bis abal-abal seperti yang ada sekarang, pasti akan lebih nyaman dan menarik.

Tapi saya juga tidak yakin sih, lha wong kita ditawari produksi kendaraan bermotor seabrek jenisnya mesti tergiur pengen punya. kalau setiap rumah punya kendaraan sendiri dan dipakai, yah tetap macetlah Jakarta ini.

Mungkin memang sudah jamannya Super Blok ??

Apa itu Super Blok? Nanti lagi saya coba paparkan. Sekarang mau kerja dulu, jangan makan benwit buta :D

-