





Akibat kesibukan kantor belakangan ini *halah*, saya tidak sempat mencari referensi tentang Taman Menteng ini. Perjalanannya pun tidak terlalu direncanakan karena mumpung sekalian lewat pas ada keperluan.
Taman Menteng ini cukup terkenal sekarang. Pada awal-awal tahun ini, Gubernur Jakarta sempat membuat heboh dengan rencana penggusuran stadion bersejarah milik Klub sepak bola Jakarta *cmiiw* lalu menjadikannya taman kota. Sempat menimbulkan banyak pertentangan tapi toh akhirnya stadion tersebut sekarang menjadi taman kota yang cantik.
Terletak diantara perumahaan di kawasan Menteng, menjadi alasan utama perubahaan pemanfaatan lahan, dari stadion menjadi taman kota. terlepas dari kontroversi mengenai sejarah stadion tersebut, dilihat sekarang, taman kota ini cukup pantas berada di lahan tersebut.

Semalam akibat nonton channel favorit saya, Elshinta channel, saya baru tau kalau ternyata julukan Kota Paris bukan hanya ditujukan untuk Kota Bandung. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, Ancol, yang merupakan wilayah Pelabuhan di daerah Jakarta Utara, terkenal dengan kemewahan dan pemandangannya yang indah. Sebagai pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal baik nasional ataupun internasional, kawasan ini sangat maju dan terkenal di jamannya.
Salah satu bukti sebutannya sebagai Kota Paris, bisa dilihat di salah satu Papan nisan di sebuah makam yang ada di komplek Klenteng Ancol.
Klenteng Ancol sendiri juga unik. Sebagai vihara, klenteng ini bukan hanya didatangi oleh orang Budha dan keturunan Cina saja, tapi juga banyak warga muslim berziarah di tempat tersebut. Terjadi perpaduan unik antara dua agama.
Berkaitan dengan sejarah Sam Po Kong atau terkenal sebagai Cheng Ho, pembesar Cina dan salah satu penyebar agama Islam, yang sering mengunjungi Batavia. Klenteng ini ada hubungannya dengan salah satu bawahannya yang dikenal dengan nama Sam Po Soei So. Beliau kemudian menikah dengan putri dari seorang Orang Alim pribumi bernama Embah Said Dato Kembang, dan masuk Islam.
Kemudian, Sam Po Soei So meninggal begitu juga istrinya dan dimakamkan dalam satu liang di kawasan Klenteng tersebut. Begitu juga terdapat makam dari Mertuanya di kawasan Klenteng.
Sampai akhirnya Klenteng tersebut merupakan tempat ibadah bagi umat Budha dan tempat berziarah bagi warga muslim. Tapi akibat adanya wabah malaria di kawasan Ancol, banyak warga melakukan eksodus ke luar wilayah tersebut, dan jemaah Klenteng ini mulai pergi satu per satu. Tapi Klenteng ini sudah memberikan bukti, bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi pertikaian, asalkan ada rasa saling menghargai dan menghormati, terutama di Kota Jakarta yang multietnis.
Kalau punya waktu, saya ingin berkunjung ke Klenteng tersebut. Dari dulu, saya sangat tertarik dengan kebudayaan Cina *mengingat saya terobsesi dengan Kungfu dan Kungfu Boy* dan sejarah Jakarta. Mungkin baru sekarang mulai baca-baca dan cari bahan.
Sebagai salah satu kota yang hidup dan berkembang berawal dari bandar Pelabuhan. Batavia, Jayakarta, dan Jakarta, berkembang menjadi kawasan yang multietnis, sampai sekarang, dan itu adalah kekayaan yang sangat menarik untuk dipelajari.
Informasi lainnya :Forum Budaya Tionghoa

Saya dulu pernah dengar tapi belum terlalu dalam menghayati mengenai,
Surganya laki-laki ada di Ibunya.
Dan surganya wanita ada di laki-laki.
Dengan kata lain, prioritas Ibu untuk laki-laki lebih mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan porsinya untuk istri. Sedangkan prioritas wanita terhadap suaminya lebih tinggi daripada prioritas untuk keluarganya sendiri.
Tentu saja, hal ini membuat saya berpikir. Hal yang tercetus dari pemikiran pendek saya langsung spontan bilang, Enak ajah!!
Iya. Enak saja!
Pantas saja, banyak menantu perempuan yang suka direcokin ibunya suami, dan suaminya diam saja huehueheueh..
Katanya sih, karena setelah menikah orangtua si wanita memberikan tanggung jawab terhadap laki-laki untuk menjaga putrinya. Tapi, dengan pemikiran pendek saya ini, saya pikir pernyataan seperti itu sudah tidak relevan. Karena sekarang jamannya keterbukaan di dalam rumah tangga, jadi semestinya tidak tampak prioritas seperti itu, toh semuanya bisa dibicarakan baik-baik.
Masalahnya adalah, banyak manusia, termasuk saya, yang suka menerapkan atau mengambil arti dari sesuatu secara eksplisit saja. Coba deh, baca pernyataan seperti itu. Kesan yang timbul adalah, kalau wanita mau surga, berbaktilah kepada laki-laki, dan makin mengukuhkan keotoriteran laki-laki.
Tapi saya belum akan mengambil kesimpulan seperti itu. Saya belum baca lebih dalam jee…Sepertinya saya harus baca tentang Fiqih Wanita
Saya hanya tidak setuju kalau pernyataan tersebut dijadikan tameng laki-laki untuk berbuat dzolim terhadap wanita dan apa yang kita sebut sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Saya pikir sangat baik jika wanita mulai kritis terhadap pernyataan yang dirasa bisa menimbulkan penafsiran yang negatif, dan membuat leluasa laki-laki berlaku diktator.
Kalau wanita seperti tulang rusuk, yang harus pelan-pelan diluruskan kalau tidak, bisa patah. Namun laki-laki adalah seperti tulang rawan, selembut atau sekeras apapun diubah akan elastis selalu ke posisi awal, alias kepala batu he he he…
Ah, kenapa saya selalu menulis tentang negatifnya laki-laki? Yah karena SAYA MASIH KECEWA dengan laki-laki.
Ohya, ada yang mau meminjamkan buku yang berkaitan dengan pernyataan di atas? Atau memberikan artikel yang berguna? *sikut-sikut syam* xexexexe…

Saya gak pernah ke pasar tradisional buat beli makanan atau bahan masakan. Pernah sih tapi setahun bisa dihitung pake jari. Gak pernah bantuin Ibu saya masak, apalagi masak sendiri, jarang.
Saya mikirnya sih, kenapa sih musti cewe yang repot-repot masak, bersih-bersih, nyiapin makanan?
Saya lihat orang tua saya, bapak saya bekerja, ibu saya juga kerja. Uang hasil kerja ibu saya juga dipakai untuk mengepulkan asap dapur rumah. Lalu, kenapa cuma ibu saya yang kerepotan sendiri nyiapin makanan, bersihin rumah, nyuci pakean, segala macam urusan rumah tangga. Dan laki-laki berdalih, saya kan sudah mencari nafkah.
Nafkah yang mana? Toh uang hasil kerja keras ibu saya masih dipakai kok untuk urusan bareng-bareng. Enak aja laki-laki kalau begitu, cuma bisa ngomong.
Memang sih, jaman sekarang banyak laki-laki cuma bisa ngomongnya doang. Maunya dihormati, dilayani, tapi coba dong pandang diri sendiri, sudah pantes belum dilayani? Secara tangan-tangan wanita menjadi kasar karena terpaksa kerja keras untuk membantu penghidupan keluarga.
Tapi minggu-minggu ini saya menyadari bahwa saya ini bukan feminis ekstrim. Kenapa?
Karena bulan puasa, saya pulang kantor jam 4. Sampai di Bekasi paling jam setengah 5 atau jam 5. Dan entah kenapa saya jadi rajin. Saya mampir ke pasar tradisional, beli makanan segala macam untuk buka. Sampai di rumah, saya lupa dengan capeknya kerja, saya menanak nasi, buat teh anget, bersihin rumah, dan menyiapkan hidangan berbuka.
Dan saya merasa senang sekali. Apa begini yah rasanya seorang wanita, seorang istri, membuat penghargaan untuk suaminya? Segala capek sehabis kerja seperti hilang, ada tenaga yang besar dan gairah.
Mungkin ini yang disebut insting. Naluri.

Apa yang sangat penting untuk dibawa saat bukan orang Jakarta jalan-jalan di Hari Minggu di Kota Jakarta?
Peta Busway TransJakarta.
Sekarang saya tidak takut lagi untuk menjelajah Jakarta, asalkan di tas sudah masuk peta koridor busway. Dengan alasan, kalaupun saya nyasar dan tidak tau entah di Jakarta daerah mana saya berada, saya cukup mencari halte Transjakarta terdekat.
Dengan memiliki peta koridor, kita bisa merencanakan, turun dan naik dari Halte mana, dan harus pindah koridor dimana. Memang sih, di masing-masing Halte sudah terpampang peta koridor. Tapi sepertinya tidak afdol kalau tidak memegang sendiri peta tersebut.
Saya punya peta koridor ini dapat gratis di Museum Gajah kemarin. Lebih tepatnya sih peta saku, karena kecil, dan mudah untuk dibawa kemana-mana.
Kenapa harus Transjakarta?
Yah karena, dengan naik Tije, kita bisa sampai di terminal-terminal besar di Jakarta, seperti Kampung Rambutan, Kampung Melayu, Kota, dan dari situ tinggal memilih mau nyambung dengan Bus Kota apa.
Kenapa tidak langsung saja naik Bis Kota?
Jakarta itu unik. Bila ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan, kalau Anda tersesat di Jakarta dan bertanya, malah akan tambah tersesat









