




Saya dulu pernah dengar tapi belum terlalu dalam menghayati mengenai,
Surganya laki-laki ada di Ibunya.
Dan surganya wanita ada di laki-laki.
Dengan kata lain, prioritas Ibu untuk laki-laki lebih mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan porsinya untuk istri. Sedangkan prioritas wanita terhadap suaminya lebih tinggi daripada prioritas untuk keluarganya sendiri.
Tentu saja, hal ini membuat saya berpikir. Hal yang tercetus dari pemikiran pendek saya langsung spontan bilang, Enak ajah!!
Iya. Enak saja!
Pantas saja, banyak menantu perempuan yang suka direcokin ibunya suami, dan suaminya diam saja huehueheueh..
Katanya sih, karena setelah menikah orangtua si wanita memberikan tanggung jawab terhadap laki-laki untuk menjaga putrinya. Tapi, dengan pemikiran pendek saya ini, saya pikir pernyataan seperti itu sudah tidak relevan. Karena sekarang jamannya keterbukaan di dalam rumah tangga, jadi semestinya tidak tampak prioritas seperti itu, toh semuanya bisa dibicarakan baik-baik.
Masalahnya adalah, banyak manusia, termasuk saya, yang suka menerapkan atau mengambil arti dari sesuatu secara eksplisit saja. Coba deh, baca pernyataan seperti itu. Kesan yang timbul adalah, kalau wanita mau surga, berbaktilah kepada laki-laki, dan makin mengukuhkan keotoriteran laki-laki.
Tapi saya belum akan mengambil kesimpulan seperti itu. Saya belum baca lebih dalam jee…Sepertinya saya harus baca tentang Fiqih Wanita
Saya hanya tidak setuju kalau pernyataan tersebut dijadikan tameng laki-laki untuk berbuat dzolim terhadap wanita dan apa yang kita sebut sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Saya pikir sangat baik jika wanita mulai kritis terhadap pernyataan yang dirasa bisa menimbulkan penafsiran yang negatif, dan membuat leluasa laki-laki berlaku diktator.
Kalau wanita seperti tulang rusuk, yang harus pelan-pelan diluruskan kalau tidak, bisa patah. Namun laki-laki adalah seperti tulang rawan, selembut atau sekeras apapun diubah akan elastis selalu ke posisi awal, alias kepala batu he he he…
Ah, kenapa saya selalu menulis tentang negatifnya laki-laki? Yah karena SAYA MASIH KECEWA dengan laki-laki.
Ohya, ada yang mau meminjamkan buku yang berkaitan dengan pernyataan di atas? Atau memberikan artikel yang berguna? *sikut-sikut syam* xexexexe…

Saya gak pernah ke pasar tradisional buat beli makanan atau bahan masakan. Pernah sih tapi setahun bisa dihitung pake jari. Gak pernah bantuin Ibu saya masak, apalagi masak sendiri, jarang.
Saya mikirnya sih, kenapa sih musti cewe yang repot-repot masak, bersih-bersih, nyiapin makanan?
Saya lihat orang tua saya, bapak saya bekerja, ibu saya juga kerja. Uang hasil kerja ibu saya juga dipakai untuk mengepulkan asap dapur rumah. Lalu, kenapa cuma ibu saya yang kerepotan sendiri nyiapin makanan, bersihin rumah, nyuci pakean, segala macam urusan rumah tangga. Dan laki-laki berdalih, saya kan sudah mencari nafkah.
Nafkah yang mana? Toh uang hasil kerja keras ibu saya masih dipakai kok untuk urusan bareng-bareng. Enak aja laki-laki kalau begitu, cuma bisa ngomong.
Memang sih, jaman sekarang banyak laki-laki cuma bisa ngomongnya doang. Maunya dihormati, dilayani, tapi coba dong pandang diri sendiri, sudah pantes belum dilayani? Secara tangan-tangan wanita menjadi kasar karena terpaksa kerja keras untuk membantu penghidupan keluarga.
Tapi minggu-minggu ini saya menyadari bahwa saya ini bukan feminis ekstrim. Kenapa?
Karena bulan puasa, saya pulang kantor jam 4. Sampai di Bekasi paling jam setengah 5 atau jam 5. Dan entah kenapa saya jadi rajin. Saya mampir ke pasar tradisional, beli makanan segala macam untuk buka. Sampai di rumah, saya lupa dengan capeknya kerja, saya menanak nasi, buat teh anget, bersihin rumah, dan menyiapkan hidangan berbuka.
Dan saya merasa senang sekali. Apa begini yah rasanya seorang wanita, seorang istri, membuat penghargaan untuk suaminya? Segala capek sehabis kerja seperti hilang, ada tenaga yang besar dan gairah.
Mungkin ini yang disebut insting. Naluri.

-








