Friday, August 29th, 2008
bukan feminis ekstrim
27 September 2007 | Saos tomat | 6 Responses

Saya gak pernah ke pasar tradisional buat beli makanan atau bahan masakan. Pernah sih tapi setahun bisa dihitung pake jari. Gak pernah bantuin Ibu saya masak, apalagi masak sendiri, jarang.

Saya mikirnya sih, kenapa sih musti cewe yang repot-repot masak, bersih-bersih, nyiapin makanan?

Saya lihat orang tua saya, bapak saya bekerja, ibu saya juga kerja. Uang hasil kerja ibu saya juga dipakai untuk mengepulkan asap dapur rumah. Lalu, kenapa cuma ibu saya yang kerepotan sendiri nyiapin makanan, bersihin rumah, nyuci pakean, segala macam urusan rumah tangga. Dan laki-laki berdalih, saya kan sudah mencari nafkah.

Nafkah yang mana? Toh uang hasil kerja keras ibu saya masih dipakai kok untuk urusan bareng-bareng. Enak aja laki-laki kalau begitu, cuma bisa ngomong.

Memang sih, jaman sekarang banyak laki-laki cuma bisa ngomongnya doang. Maunya dihormati, dilayani, tapi coba dong pandang diri sendiri, sudah pantes belum dilayani? Secara tangan-tangan wanita menjadi kasar karena terpaksa kerja keras untuk membantu penghidupan keluarga.

Tapi minggu-minggu ini saya menyadari bahwa saya ini bukan feminis ekstrim. Kenapa?

Karena bulan puasa, saya pulang kantor jam 4. Sampai di Bekasi paling jam setengah 5 atau jam 5. Dan entah kenapa saya jadi rajin. Saya mampir ke pasar tradisional, beli makanan segala macam untuk buka. Sampai di rumah, saya lupa dengan capeknya kerja, saya menanak nasi, buat teh anget, bersihin rumah, dan menyiapkan hidangan berbuka.

Dan saya merasa senang sekali. Apa begini yah rasanya seorang wanita, seorang istri, membuat penghargaan untuk suaminya? Segala capek sehabis kerja seperti hilang, ada tenaga yang besar dan gairah.

Mungkin ini yang disebut insting. Naluri.

6 Responses to “bukan feminis ekstrim”

aLe, Indonesia
27 September 2007 - 11:47AM

Memang sih, jaman sekarang banyak laki-laki cuma bisa ngomongnya doang. Maunya dihormati, dilayani,…

eits.,
sapa bilang banyak? gak ada data statistiknya kan :D
*ngeles* :P

Mungkin ini yang disebut insting. Naluri.

kira2 begitulah., aLe semakin faham kenapa eMak ku betah seharian di dapur utk memasakkan keluarga di rumah :)
*jadi kangen pengen mudik neh* :D

iya iyaa...naluri :)
mysyam, Indonesia
27 September 2007 - 03:08PM

ah.. instingku mengatakan kalo kamu ini pengen diperistri.. ya kan ;))

doakan saja ...amiiin :)
Ai, Indonesia
27 September 2007 - 06:33PM

*ngakak baca komennya syam*

sis..mau sama diriku? nyahaha..upz.

Btw, kayaknya pertanyaanmu udah kejawab sendiri tuh sis. hihi.
Soal kenapa perempuan harus melayani suaminya. ;))

aku tidak suka kata MELAYANI.
mutrik, Indonesia
28 September 2007 - 02:22PM
URL: -

Perempuan tidak bahagia jika tidak banyak kerjaan sampai sampai lantai yang bersih bisa disapu 3 kali sehari (cmiiw), sedang laki-laki tidak bahagia jika banyak kerjaan sampai sampai cuek aja meski lantai cuma di sapu 1 kali seminggu he he. Jadi biarkan saja semuanya bahagia.

mutrik, Indonesia
29 September 2007 - 05:22AM
URL: -

Di artikel New York Times 26 September 2007 berjudul “He’s Happier, She’s Less So” disebutkan kalau saja teknologi membersihkan rumah bisa lebih maju, wanita akan jauh lebih bahagia.

Ai, Indonesia
29 September 2007 - 03:04PM

b’arti sis ga cocok jadi waitress.. haha
*ga nyambung.com*

kekekeke yah emang bener ga cocok ;))

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>