




Semalam akibat nonton channel favorit saya, Elshinta channel, saya baru tau kalau ternyata julukan Kota Paris bukan hanya ditujukan untuk Kota Bandung. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, Ancol, yang merupakan wilayah Pelabuhan di daerah Jakarta Utara, terkenal dengan kemewahan dan pemandangannya yang indah. Sebagai pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal baik nasional ataupun internasional, kawasan ini sangat maju dan terkenal di jamannya.
Salah satu bukti sebutannya sebagai Kota Paris, bisa dilihat di salah satu Papan nisan di sebuah makam yang ada di komplek Klenteng Ancol.
Klenteng Ancol sendiri juga unik. Sebagai vihara, klenteng ini bukan hanya didatangi oleh orang Budha dan keturunan Cina saja, tapi juga banyak warga muslim berziarah di tempat tersebut. Terjadi perpaduan unik antara dua agama.
Berkaitan dengan sejarah Sam Po Kong atau terkenal sebagai Cheng Ho, pembesar Cina dan salah satu penyebar agama Islam, yang sering mengunjungi Batavia. Klenteng ini ada hubungannya dengan salah satu bawahannya yang dikenal dengan nama Sam Po Soei So. Beliau kemudian menikah dengan putri dari seorang Orang Alim pribumi bernama Embah Said Dato Kembang, dan masuk Islam.
Kemudian, Sam Po Soei So meninggal begitu juga istrinya dan dimakamkan dalam satu liang di kawasan Klenteng tersebut. Begitu juga terdapat makam dari Mertuanya di kawasan Klenteng.
Sampai akhirnya Klenteng tersebut merupakan tempat ibadah bagi umat Budha dan tempat berziarah bagi warga muslim. Tapi akibat adanya wabah malaria di kawasan Ancol, banyak warga melakukan eksodus ke luar wilayah tersebut, dan jemaah Klenteng ini mulai pergi satu per satu. Tapi Klenteng ini sudah memberikan bukti, bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi pertikaian, asalkan ada rasa saling menghargai dan menghormati, terutama di Kota Jakarta yang multietnis.
Kalau punya waktu, saya ingin berkunjung ke Klenteng tersebut. Dari dulu, saya sangat tertarik dengan kebudayaan Cina *mengingat saya terobsesi dengan Kungfu dan Kungfu Boy* dan sejarah Jakarta. Mungkin baru sekarang mulai baca-baca dan cari bahan.
Sebagai salah satu kota yang hidup dan berkembang berawal dari bandar Pelabuhan. Batavia, Jayakarta, dan Jakarta, berkembang menjadi kawasan yang multietnis, sampai sekarang, dan itu adalah kekayaan yang sangat menarik untuk dipelajari.
Informasi lainnya :Forum Budaya Tionghoa

9 Responses to “Kota Paris dan Klenteng Ancol.”
menarik..
oiya, setau saya, kota Bandung disebut sebagai Paris Van Java bukan karena keindahan kotanya, tapi karena pusat mode-nya. Kalo lewat Jl. Braga, wew.. keliatan banget eropanya. ini ditunjukkan dari arsitektur bangunannya..
Dan soal Ancol, saya pernah denger ada makam suami-istri yg berada di tengah danau (atau laut) gitu yg dulu merupakan salah satu tokoh agama (entah islam atau cina). apakah itu??
lain kali, datang ke kuil Sam Poo Kong di Semarang. Asimilasi Jawa-Islam-Cina kental banget. Juga masjid Cheng Ho di Surabaya.. mantab benar!!
Iya menarik, pengen juga tuh ke Semarang n Surabaya!Di Kalimantan ada kota bernama Kelua yang pada jaman Belanda juga disebut kota Paris entah karena alasan apa.
satu orang lagi terindikasi terserang virus jengjeng dari jogja!!
hmmmm.. jadi kapan mau ke sana? kalau udah ke sana, jangan lupa laporan + skrinsutnya ya
*lebih bagus lagi jika kamu mengajakku he he he*
*setuju sama nisa*
kalo mau ke sana. Ajak2 ya sis. 
Mau ikut jalan2 ke kota Paris bulan depan Non..ayukk
oh gitu toh..amma baru tahu
..thq for the info 
dibogor juga ada kota paris, di daerah merdeka, nanti malah mau ada paguyuban penghuni lama kota paris bogor bulan februari 2008, tertarik?
Leave a Comment











jadi sekarang sudah nggak terobsesi dengan puss meong lagi, tuh buktinya obsesi sama kunfu (life)buoy..