




Hud-hud memberikan kabar kepada Nabi Sulaiman:
Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta singgasana yang besar (An Naml: 22-23)
….
Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud untuk mengirimkan surat yang berisi seruan untuk berserah diri dan tidak berlaku sombong.
Kata Balqis :
Hai pembesar-pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusan ini, aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalanpun sebelum kamu berada dalam majelis’ku. (An Naml: 32)
….
Saya selalu terpikat dengan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Terutama Ratu Balqis dari Kota Saba. Diceritakan bahwa Balqis memerintah negeri nya dengan bijaksana, adil, sehingga menjadi negara yang makmur dan berlimpah dengan harta. Penduduk negeri Yaman di Kota Saba pada waktu itu menyembah matahari, lalu kemudian Ratu Balqis berserah diri dan menyembah Tuhannya Nabi Sulaiman.
Sepertinya sejarah telah mencatat hal yang salah. Musyawarah pertama dengan dewan majelis, ternyata sudah berlangsung beratus-ratus tahun lalu dari sejak berdirinya Kebudayaan Yunani dan Romawi.
Dan contohnya, apa yang telah dilakukan oleh Ratu Balqis. Seorang wanita yang mampu memimpin negara, bukan dengan cara kepemimpinan diktator, tapi dengan musyawarah di dalam Majelis (majelis diartikan sebagai kelompok orang yang berkumpul), menjadikan negaranya makmur dan kaya.
Dan bukan dikenal sebagai wanita pemimpin yang karena kewanitaannya secara fisik dijadikan senjata untuk menguntungkan pihaknya. Seperti pada cerita Cleopatra, dengan kecantikannya mampu menundukkan Romawi. Walaupun sebenarnya dari yang pernah saya baca, Cleopatra tidak cantik, tapi cerdas, pandai berdiplomatis, dan punya pesona.
Karena saya pikir, menundukkan yang ada dengan fisik dan kecantikkan saja merupakan hal yang katro
Dan merupakan pelecehan bagi wanita lainnya, jika ada wanita yang digandrungi hanya karena lekuk tubuh. Dengan kata lain, kita kembali ke jaman purba, dimana penilaian terhadap wanita hanya dari ukuran lingkar dada, dan fisik lainnya, mengesampingkan kekuatan wanita yang sebenarnya. Dan sekarang, para wanita bangga terhadap hal itu. Wanita-wanita gila! 

Matahari perlahan bergeser ke timur
meninggalkan gairah hati
berdebu salju dan hujan es
Tergambar setengah bejana perak di langit
Lalu Venus mengalahkan sinarnya
Menjadi bukan apa-apa
Hanya batuan pucat asing di angkasa
Aku memang harus bangkit
walau terbangun hanya setengah nyawa
Sampai suatu malam
Di awal bulan Oktober
Ku pasti kan benderang
*6.30 WIB, di perjalanan rutin menuju kantor









