Tuesday, October 14th, 2008
Cahaya pun kan Tetap Ada
08 November 2007 | Pujangga baso | 6 Comments

Lumia mengambil pinsilnya. Tangannya bergerak mencorat coret sketch book lusuh di bawah sinar lampu jalanan. Jalan Karet Tengsin, begitu tulisan yang ada di papan tepat disamping dia berjongkok. Matanya menyipit, dagunya bergerak ke atas ke bawah mengikuti gerakan wajah. dari objek lalu ke kertas, lalu ke objek dan selalu berulang. Matanya semakin dipicingkan, dari gelapnya malam dan dari lebarnya jalan 3m, usaha untuk melihat gurat dari sebuah ukiran menjadi hal yang berat.

Seandainya dia pelukis yang diberi indera penglihatan seperti elang, maka akan bersyukur dan menarilah dia. Untung saja, cahaya palsu dari lampu-lampu bohlam tidak takut akan apapun. Sambil menahan beratnya nafas akibat batuk payah yang divonis dokter sok tahu akibat rokok, Lumia mengencangkan syalnya dan mempercepat gerak tangannya.

Angin meniup dengan lembut terasa dingin seperti tubuh merasakan rifampisin, meniup lembaran kertas. Sebuah lukisan nisan dengan uliran bunga di dua sisinya, lalu bunga teratai di tengahnya.

Tulisan: Ayah kami tercinta, Hao Wang…

Telah diganti menjadi,

Dalam Gelap yang Bercahaya, Lumia Ardina.

-