




Lumia mengambil pinsilnya. Tangannya bergerak mencorat coret sketch book lusuh di bawah sinar lampu jalanan. Jalan Karet Tengsin, begitu tulisan yang ada di papan tepat disamping dia berjongkok. Matanya menyipit, dagunya bergerak ke atas ke bawah mengikuti gerakan wajah. dari objek lalu ke kertas, lalu ke objek dan selalu berulang. Matanya semakin dipicingkan, dari gelapnya malam dan dari lebarnya jalan 3m, usaha untuk melihat gurat dari sebuah ukiran menjadi hal yang berat.
Seandainya dia pelukis yang diberi indera penglihatan seperti elang, maka akan bersyukur dan menarilah dia. Untung saja, cahaya palsu dari lampu-lampu bohlam tidak takut akan apapun. Sambil menahan beratnya nafas akibat batuk payah yang divonis dokter sok tahu akibat rokok, Lumia mengencangkan syalnya dan mempercepat gerak tangannya.
Angin meniup dengan lembut terasa dingin seperti tubuh merasakan rifampisin, meniup lembaran kertas. Sebuah lukisan nisan dengan uliran bunga di dua sisinya, lalu bunga teratai di tengahnya.
Tulisan: Ayah kami tercinta, Hao Wang…
Telah diganti menjadi,
Dalam Gelap yang Bercahaya, Lumia Ardina.

6 Responses to “Cahaya pun kan Tetap Ada”
Semua post yang berkategori pujangga baso tak bisa kumengerti kecuali yang bulan beku setengah (sok ngerti
)
ayo iks, kamu berbakat mengirimkan karyamu untuk diterbitkan.. hu hu hu
senasip dgn ibu kos *tos!*
ga ngerti ni yg beginian.
mendingan maenan fesbuk 
*HAHAHAHAHA! MABOK!*
(sama kayak nisa -ngga ngerti-
wahai pujangga bakso… terus berkarya…
hehehe..
Leave a Comment












hmm…. kok saya gak mudeng ya..