Friday, November 21st, 2008
Laskar Pelangi (sedikit kritik)
30 September 2008 | Sambel cabe | 8 Comments

Tolong betulkan kalau saya salah.

Sebuah adaptasi dari novel menjadi sebuah film semestinya bisa menjelaskan cerita secara keseluruhan dalam versi film yang bisa saja sama atau sedikit berbeda dari filmnya. Maksud saya sederhananya begini, saat dibuat menjadi film, orang-orang yang pada awalnya tidak atau belum membaca bukunya dapat memahami tokoh atau ceritanya lewat versi lain yaitu film. Bukan berarti harus membaca bukunya sebelum nonton kan untuk mendapatkan informasi tentang tokoh-tokohnya atau informasi lain.

Intinya, Laskar Pelangi kemarin hanya, Ikal, Mahar dan Lintang. Tidak ada Syahdan, Trapani dan Sahara, peran mereka hanya pajangan. Tidak diceritakan sama sekali. Yah setidaknya sebut nama atau apapun namanya.

Lalu, saya tau kalau Lintang itu dari pesisir sangat jauh untuk bersekolah dan harus menunggu buaya lewat dahulu, tapi apakah harus ditunjukkan berkali-kali? Di lain sisi bisa diisi dengan scene yang lebih variatif ?

Bagus, secara tema karena akhir-akhir ini jarang film yang mendidik dan punya pesan. Di samping film sampah Indonesia yang hanya mendidik daerah pangkal paha atau mendidik jadi janda.

Yang bagus menurut saya akting si Ikal kecil, acung jempol :)

Kritik yang terakhir,

Kenapa harus ada Tora Sudiro ?????

Dolan ke Muara Sabak Jambi.
14 September 2008 | Kecap manis | 5 Comments

Minggu kemarin disuruh kantor lihat lokasi ke daerah Muara Sabak di Jambi. Rencananya sih 5 hari tapi nyatanya hanya sempat dua hari. Tidak begitu banyak yang dapat diceritakan dari perjalanan kemarin.

Jambi, dilihat dari atas pesawat tidak begitu semenarik Padang. Daerahnya juga tidak terlalu berbukit, lebih banyak hamparan semak belukar, rawa, lahan gambut di sepanjang bibir Sungai Batanghari. Sungai Batanghari sendiri adalah prasarana transportasi bagi kegiatan ekonomi di Jambi. Saya sendiri kemarin sempat ke Pelabuhan Talangduku dan survey ke Pelabuhan Muarasabak yang sampai saat ini masih digunakan sebagai pelabuhan curah padat seperti batubara.

Perjalanan ke Muara Sabak butuh waktu 2,5 jam dari Kota Jambi, itupun sudah dengan kecepatan 110 km/jam. Jalannya terbilang bagus dan layak, melewati bukit-bukit dan beberapa desa. Sepanjang jalan, lebih banyak hutan dan semak-semak serta perkebunan kelapa sawit, dengan sedikit rumah penduduk. Kalau tidak salah, rencana jangka pendek dari Jambi adalah memberdayakan lahan Jambi menjadi perkebunan Kelapa Sawit. Rumah penduduk di daerah desanya adalah rumah panggung, mungkin karena banyak daerah gambut atau rawa.

Masuk ke wilayah pelabuhan, jalannya masih memprihatinkan. Jalan hotmix nya rusak dan ada titik jalan yang longsor. Saat lewat jalan itu ternyata ada ular melintas he he…belum lagi masih banyak monyet dan burung elang.

Namanya, Emansipasi
04 September 2008 | Cuka asem | 10 Comments

Berjalan di tengah garis jalan,
Belok tiba-tiba tanpa sen,
Berjalan dengan kecepatan 40 km/jam di jalan tol yang kosong karena sibuk pindah gigi,
Berbelok dengan mengambil space setengah badan jalan,
atau mobil tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

Bukan masalah.

Karena Anda wanita, anda di maklumi!

Saat mobil-mobil di belakang Anda mengumpat dan hampir memaki, maka mereka akan bergumam,

Ah pantes yang nyupir cewe…

Yah,

Sama saja ketika Anda naik bis, walaupun sekarang laki-laki mengumpat dibalik emansipasi yaitu tidak memberikan tempat duduk untuk wanita. Tapi tetap saja, wanita akan memasang muka memelas agar diberi tempat duduk, dan wanita menyebut pria itu gentleman.

Emansipasi

Adalah usaha untuk menyamakan derajat antara pria dan wanita. Punya obsesi seperti pria , hanya bedanya saat pria mempunyai gengsi yang sangat tinggi untuk ditolong, wanita akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya termasuk dikasihani. Selama itu menguntungkan.

-