




Minggu kemarin disuruh kantor lihat lokasi ke daerah Muara Sabak di Jambi. Rencananya sih 5 hari tapi nyatanya hanya sempat dua hari. Tidak begitu banyak yang dapat diceritakan dari perjalanan kemarin.
Jambi, dilihat dari atas pesawat tidak begitu semenarik Padang. Daerahnya juga tidak terlalu berbukit, lebih banyak hamparan semak belukar, rawa, lahan gambut di sepanjang bibir Sungai Batanghari. Sungai Batanghari sendiri adalah prasarana transportasi bagi kegiatan ekonomi di Jambi. Saya sendiri kemarin sempat ke Pelabuhan Talangduku dan survey ke Pelabuhan Muarasabak yang sampai saat ini masih digunakan sebagai pelabuhan curah padat seperti batubara.
Perjalanan ke Muara Sabak butuh waktu 2,5 jam dari Kota Jambi, itupun sudah dengan kecepatan 110 km/jam. Jalannya terbilang bagus dan layak, melewati bukit-bukit dan beberapa desa. Sepanjang jalan, lebih banyak hutan dan semak-semak serta perkebunan kelapa sawit, dengan sedikit rumah penduduk. Kalau tidak salah, rencana jangka pendek dari Jambi adalah memberdayakan lahan Jambi menjadi perkebunan Kelapa Sawit. Rumah penduduk di daerah desanya adalah rumah panggung, mungkin karena banyak daerah gambut atau rawa.

Masuk ke wilayah pelabuhan, jalannya masih memprihatinkan. Jalan hotmix nya rusak dan ada titik jalan yang longsor. Saat lewat jalan itu ternyata ada ular melintas he he…belum lagi masih banyak monyet dan burung elang.

-








