




Tolong betulkan kalau saya salah.
Sebuah adaptasi dari novel menjadi sebuah film semestinya bisa menjelaskan cerita secara keseluruhan dalam versi film yang bisa saja sama atau sedikit berbeda dari filmnya. Maksud saya sederhananya begini, saat dibuat menjadi film, orang-orang yang pada awalnya tidak atau belum membaca bukunya dapat memahami tokoh atau ceritanya lewat versi lain yaitu film. Bukan berarti harus membaca bukunya sebelum nonton kan untuk mendapatkan informasi tentang tokoh-tokohnya atau informasi lain.
Intinya, Laskar Pelangi kemarin hanya, Ikal, Mahar dan Lintang. Tidak ada Syahdan, Trapani dan Sahara, peran mereka hanya pajangan. Tidak diceritakan sama sekali. Yah setidaknya sebut nama atau apapun namanya.
Lalu, saya tau kalau Lintang itu dari pesisir sangat jauh untuk bersekolah dan harus menunggu buaya lewat dahulu, tapi apakah harus ditunjukkan berkali-kali? Di lain sisi bisa diisi dengan scene yang lebih variatif ?
Bagus, secara tema karena akhir-akhir ini jarang film yang mendidik dan punya pesan. Di samping film sampah Indonesia yang hanya mendidik daerah pangkal paha atau mendidik jadi janda.
Yang bagus menurut saya akting si Ikal kecil, acung jempol
Kritik yang terakhir,
Kenapa harus ada Tora Sudiro ?????

8 Responses to “Laskar Pelangi (sedikit kritik)”
Setuju, Tora Sudiro membuat film ini terkesan main-main.
Selebihanya, ya saya rasa memang tidak mungkin membuat seluruh karakter di Laskar itu menonjol. Bahkan, dengan hanya memusatkan cerita pada tiga tokoh saja, sudah membuat film ini kurang fokus, saya kuatir Laskar Pelangi akan sangat kacau kalau seluruh karakter digarap.
Selain itu menunjukkan perjalanan Linta yang berkali-kali itu malah bagus IMHO, memperkuat kesan tentang tantangan yang harus dilalui si tokoh.
Herman Saksono’s last blog post: Laskar Pelangi
Jadi memang begitu, film - terutama film film komersial ( bukan art film ), merupakan kompromi antara pasar, sutradara, penulis dan producer, juga investor. Ujung ujungnya mereka ingin duitnya kembali,jadi mau tidak mau kadang ada tokoh atau bintang ‘ yang ‘ dipaksakan karena memang ratingnya tinggi. Tapi sepanjang dia mau memainkan perannya dengan baik, walaupun dia lebih terkenal karena peran banyol, bodor. Di Hollywood Jim carey pun sudah bisa memainkan akting akting serius, atau jaman dulu ada Dorman Borisman, atau misalnya Rieke Dyah Pitaloka, yang kesannya bodo dalam peran Oneng di Bajuri. Justru akting seriusnya mengagumkian di Berbagi Suami.
Juga setuju dengan Momon, bahwa dalam film tidak harus melulu menerjemahkan plek ketiplek bukunya. Ini yang dinamakan TAFSIR sutradara, dan tentunya dengan persetujuan penulis asli - andrea hirata.
Tidak mungkin dalam durasi 120 menit menonjolkan semua karakter. Harus ada pilihan dan focus.
Trio Ikal, Lintang dan Mahar memang tetap menjadi pusat cerita, tetapi porsi bu Muslimah, Pak Harfan, dan kepala sekolah lebih besar dibanding dalam cerita di novel.
Dengan adanya tafsir, justru sutradara - Riri - bisa membuat lebih membumi , misalnya dengan mengganti Tennese Waltz yang dinyanyikan Mahar dengan lagu Bunga Seroja, atau Lintang yang jeniusnya ‘ over ‘ dengan berdebat cincin Newton menjadi lebih wajar.
Jadi memang film sebuah karya yang tidak harus diartikan sebagai novel asli. Film adalah film, novel adalah novel.
iman brotoseno’s last blog post: Pembebasan Idul Fitri
Soalnya di akhir film, adik saya masih bertanya jadi Laskar pelangi itu siapa saja ? Cuma 3 orang yah
ya kemunculan tora sudiro supaya ada nama yang terkenal di poster film nya .. .
mungkin karena selain 3 tokoh itu.. dan harun .. tokoh kecil lainnya kurang punya cerita. dan emang tidak semua bagian di novel harus difilem kan . bagian flo aja sepertinya masih kurang kok . .
mungk lebih baik karakter lain itu tidak dibahas sama sekali daripada tanggung

di novel nya juga loch, dari 10 + 1 anggota laskar pelangi hanya 3 yang menonjol … ikal, lintang , dan mahar.
Klo semua di ceritakan, berapa lama durasi film nya yah
suprie’s last blog post: Maap!
jadi ingin crita kalo sy menonton dulu tetapi belum selesai membaca bukunya setelah sekian lama saya beli
didut’s last blog post: Three Kingdoms
Jujur saya nggak nyontek, tapi emang sehati ‘feel’ kita sehabis nonton inih film
Aniway, salam kenal
shelila’s last blog post: where are you my luvly API key??
Leave a Comment











itu dia, mba. agak disayangkan. kenapa ga diperkenalkan satu-satu lebih dulu. kan ga tau mana yg Trapani, mana yg A Kiong, mana yg Syahdan. fokus cuman di Ikal, Lintang, sama Mahar.
oya, aku yg salah denger apa emang Sahara jadi Zahra?
aku lebih suka Mahar tuh
ah gpp lah mba, ada TorSud. itung2 ada yg dikecengin
uthie’s last blog post: Maafkan