Friday, August 29th, 2008
Si Jagur, Meriam Pejantan
05 October 2007 | Baso campur | 3 Comments

lambang kesuburan

Si Jagur beratnya 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter. Dibawa oleh Belanda dari Malaka setelah Malaka direbut dari tangan Portugis tahun 1641. Berkaliber 24 pon dan ditempatkan di salah satu kubu kastil batavia…

MORE…

Ratu Balqis, sedikit cerita
03 October 2007 | Baso campur | 5 Comments

Hud-hud memberikan kabar kepada Nabi Sulaiman:

Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta singgasana yang besar (An Naml: 22-23)

….

Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud untuk mengirimkan surat yang berisi seruan untuk berserah diri dan tidak berlaku sombong.

Kata Balqis :

Hai pembesar-pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusan ini, aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalanpun sebelum kamu berada dalam majelis’ku. (An Naml: 32)

….

Saya selalu terpikat dengan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Terutama Ratu Balqis dari Kota Saba. Diceritakan bahwa Balqis memerintah negeri nya dengan bijaksana, adil, sehingga menjadi negara yang makmur dan berlimpah dengan harta. Penduduk negeri Yaman di Kota Saba pada waktu itu menyembah matahari, lalu kemudian Ratu Balqis berserah diri dan menyembah Tuhannya Nabi Sulaiman.

Sepertinya sejarah telah mencatat hal yang salah. Musyawarah pertama dengan dewan majelis, ternyata sudah berlangsung beratus-ratus tahun lalu dari sejak berdirinya Kebudayaan Yunani dan Romawi.

Dan contohnya, apa yang telah dilakukan oleh Ratu Balqis. Seorang wanita yang mampu memimpin negara, bukan dengan cara kepemimpinan diktator, tapi dengan musyawarah di dalam Majelis (majelis diartikan sebagai kelompok orang yang berkumpul), menjadikan negaranya makmur dan kaya.

Dan bukan dikenal sebagai wanita pemimpin yang karena kewanitaannya secara fisik dijadikan senjata untuk menguntungkan pihaknya. Seperti pada cerita Cleopatra, dengan kecantikannya mampu menundukkan Romawi. Walaupun sebenarnya dari yang pernah saya baca, Cleopatra tidak cantik, tapi cerdas, pandai berdiplomatis, dan punya pesona.

Karena saya pikir, menundukkan yang ada dengan fisik dan kecantikkan saja merupakan hal yang katro :D Dan merupakan pelecehan bagi wanita lainnya, jika ada wanita yang digandrungi hanya karena lekuk tubuh. Dengan kata lain, kita kembali ke jaman purba, dimana penilaian terhadap wanita hanya dari ukuran lingkar dada, dan fisik lainnya, mengesampingkan kekuatan wanita yang sebenarnya. Dan sekarang, para wanita bangga terhadap hal itu. Wanita-wanita gila! ;))

Kota Paris dan Klenteng Ancol.
28 September 2007 | Baso campur | 9 Comments

Semalam akibat nonton channel favorit saya, Elshinta channel, saya baru tau kalau ternyata julukan Kota Paris bukan hanya ditujukan untuk Kota Bandung. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, Ancol, yang merupakan wilayah Pelabuhan di daerah Jakarta Utara, terkenal dengan kemewahan dan pemandangannya yang indah. Sebagai pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal baik nasional ataupun internasional, kawasan ini sangat maju dan terkenal di jamannya.

Salah satu bukti sebutannya sebagai Kota Paris, bisa dilihat di salah satu Papan nisan di sebuah makam yang ada di komplek Klenteng Ancol.

Klenteng Ancol sendiri juga unik. Sebagai vihara, klenteng ini bukan hanya didatangi oleh orang Budha dan keturunan Cina saja, tapi juga banyak warga muslim berziarah di tempat tersebut. Terjadi perpaduan unik antara dua agama.

Berkaitan dengan sejarah Sam Po Kong atau terkenal sebagai Cheng Ho, pembesar Cina dan salah satu penyebar agama Islam, yang sering mengunjungi Batavia. Klenteng ini ada hubungannya dengan salah satu bawahannya yang dikenal dengan nama Sam Po Soei So. Beliau kemudian menikah dengan putri dari seorang Orang Alim pribumi bernama Embah Said Dato Kembang, dan masuk Islam.

Kemudian, Sam Po Soei So meninggal begitu juga istrinya dan dimakamkan dalam satu liang di kawasan Klenteng tersebut. Begitu juga terdapat makam dari Mertuanya di kawasan Klenteng.

Sampai akhirnya Klenteng tersebut merupakan tempat ibadah bagi umat Budha dan tempat berziarah bagi warga muslim. Tapi akibat adanya wabah malaria di kawasan Ancol, banyak warga melakukan eksodus ke luar wilayah tersebut, dan jemaah Klenteng ini mulai pergi satu per satu. Tapi Klenteng ini sudah memberikan bukti, bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi pertikaian, asalkan ada rasa saling menghargai dan menghormati, terutama di Kota Jakarta yang multietnis.

Kalau punya waktu, saya ingin berkunjung ke Klenteng tersebut. Dari dulu, saya sangat tertarik dengan kebudayaan Cina *mengingat saya terobsesi dengan Kungfu dan Kungfu Boy* dan sejarah Jakarta. Mungkin baru sekarang mulai baca-baca dan cari bahan.

Sebagai salah satu kota yang hidup dan berkembang berawal dari bandar Pelabuhan. Batavia, Jayakarta, dan Jakarta, berkembang menjadi kawasan yang multietnis, sampai sekarang, dan itu adalah kekayaan yang sangat menarik untuk dipelajari.

Informasi lainnya :Forum Budaya Tionghoa

Ceramah rutin di kantor pas Ramadhan, yang saya gak tidur dengerinnya.
27 September 2007 | Baso campur | 12 Comments

Saya dulu pernah dengar tapi belum terlalu dalam menghayati mengenai,

Surganya laki-laki ada di Ibunya.
Dan surganya wanita ada di laki-laki.

Dengan kata lain, prioritas Ibu untuk laki-laki lebih mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan porsinya untuk istri. Sedangkan prioritas wanita terhadap suaminya lebih tinggi daripada prioritas untuk keluarganya sendiri.

Tentu saja, hal ini membuat saya berpikir. Hal yang tercetus dari pemikiran pendek saya langsung spontan bilang, Enak ajah!!

Iya. Enak saja!

Pantas saja, banyak menantu perempuan yang suka direcokin ibunya suami, dan suaminya diam saja huehueheueh.. ;))

Katanya sih, karena setelah menikah orangtua si wanita memberikan tanggung jawab terhadap laki-laki untuk menjaga putrinya. Tapi, dengan pemikiran pendek saya ini, saya pikir pernyataan seperti itu sudah tidak relevan. Karena sekarang jamannya keterbukaan di dalam rumah tangga, jadi semestinya tidak tampak prioritas seperti itu, toh semuanya bisa dibicarakan baik-baik.

Masalahnya adalah, banyak manusia, termasuk saya, yang suka menerapkan atau mengambil arti dari sesuatu secara eksplisit saja. Coba deh, baca pernyataan seperti itu. Kesan yang timbul adalah, kalau wanita mau surga, berbaktilah kepada laki-laki, dan makin mengukuhkan keotoriteran laki-laki.

Tapi saya belum akan mengambil kesimpulan seperti itu. Saya belum baca lebih dalam jee…Sepertinya saya harus baca tentang Fiqih Wanita :D

Saya hanya tidak setuju kalau pernyataan tersebut dijadikan tameng laki-laki untuk berbuat dzolim terhadap wanita dan apa yang kita sebut sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Saya pikir sangat baik jika wanita mulai kritis terhadap pernyataan yang dirasa bisa menimbulkan penafsiran yang negatif, dan membuat leluasa laki-laki berlaku diktator.

Kalau wanita seperti tulang rusuk, yang harus pelan-pelan diluruskan kalau tidak, bisa patah. Namun laki-laki adalah seperti tulang rawan, selembut atau sekeras apapun diubah akan elastis selalu ke posisi awal, alias kepala batu he he he… ;))

Ah, kenapa saya selalu menulis tentang negatifnya laki-laki? Yah karena SAYA MASIH KECEWA dengan laki-laki.

Ohya, ada yang mau meminjamkan buku yang berkaitan dengan pernyataan di atas? Atau memberikan artikel yang berguna? *sikut-sikut syam* xexexexe…

Persiapkan Peta Koridor Anda!
24 September 2007 | Baso campur | 17 Comments

Apa yang sangat penting untuk dibawa saat bukan orang Jakarta jalan-jalan di Hari Minggu di Kota Jakarta?

Peta Busway TransJakarta.

Sekarang saya tidak takut lagi untuk menjelajah Jakarta, asalkan di tas sudah masuk peta koridor busway. Dengan alasan, kalaupun saya nyasar dan tidak tau entah di Jakarta daerah mana saya berada, saya cukup mencari halte Transjakarta terdekat.

Dengan memiliki peta koridor, kita bisa merencanakan, turun dan naik dari Halte mana, dan harus pindah koridor dimana. Memang sih, di masing-masing Halte sudah terpampang peta koridor. Tapi sepertinya tidak afdol kalau tidak memegang sendiri peta tersebut.

Saya punya peta koridor ini dapat gratis di Museum Gajah kemarin. Lebih tepatnya sih peta saku, karena kecil, dan mudah untuk dibawa kemana-mana.

Kenapa harus Transjakarta?

Yah karena, dengan naik Tije, kita bisa sampai di terminal-terminal besar di Jakarta, seperti Kampung Rambutan, Kampung Melayu, Kota, dan dari situ tinggal memilih mau nyambung dengan Bus Kota apa.

Kenapa tidak langsung saja naik Bis Kota?

Jakarta itu unik. Bila ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan, kalau Anda tersesat di Jakarta dan bertanya, malah akan tambah tersesat :))

Previous Entries - Next Entries