




Hidup sudah sangat membosankanLangit sudah tidak tampak seperti langit
Lelaki sudah tidak tampak seperti lelakiPuisi sudah tampak seperti sampah
Petuah pun tampak seperti comberanHasrat menjadi binatang
Pun punah
Kalau akhirnya mati juga dalam rantai makananGairah menjadi hijaunya daun
Pun kandas tak terkira
Kalau akhirnya harus meranggas di musim gugurNiat hati menjadi iblis
Pun terkunci
Kalau harus terkungkung dalam kegaiban alamLalu ku berteriak,
MALAIKAT!
…tapi malaikat tidak bersenggama, kan ?
Kebosanan yang berbahagia.

Sore ini langit hitamTurun selaksa embun
Tapi tak hendak melankolis
Hanya menusuk relung bumi
Seperti bulir sakit hati.
*13 Nov’07 , sebelum nge-shut laptop, pulang…

Orang-orang maya ini sudah mulai berkelompok
menyusun strategi, terkekeh, tersentak, terendam dalam bilasan tulisan
Orang-orang maya ini sudah tidak percaya
bahwa dunia diciptakan dalam kesendirian
Lagi
Orang-orang maya ini
sudah menyimpan tubuhnya sendiri dalam file .txt
dan tertawa riang karenanya
Perayaan gaduh dalam perhatian
Kemudian
Orang-orang maya ini bersama-sama
meruntuhkan kerajaan kakek dan nenek.

Sebuah tanda tidak akan menjadi makna tanpa adanya rasa tersakiti.
Lalu sebuah hikmah pun menjadi punya arti dan kemudian menutupi perasaan kalah terhina.
Aku memang bisa menerima walau hanya di bibir ini. Sebuah tanda yang kuartikan dalam kegalauan rasa. Ketidakpastian kemudian menjadi sesuatu yang pasti saat semuanya terkatakan dengan jelas. Waktu tlah berubah wujud menjadi sebuah ruangan yang berdimensi, karena pejalnya sebuah pernyataan.
Ini memang bukan sekedar sementara. Kejujuran akan menorehkan luka sampai waktu yang akan menghilangkan jejaknya. Wacana palsu pun akan terbuka dan disambut dengan decak kagum, bagaimana kepalsuan itu disembunyikan. Sebuah kecerdasan yang menenggelamkan kemanusiaan.
Lalu hiduplah rasa bersalah. Yang berakhir dengan merendahkan diri dalam permintaan maaf. Maaf pun kembali menjadi sebuah wacana palsu penghindaran diri. Dengan maaf, terbukalah semua pintu rasa kasihan.
Selalu begitu dan berputar di setiap penyangkalan atas dosa yang dimaafkan. Dan atas nama kejujuran.

Lumia mengambil pinsilnya. Tangannya bergerak mencorat coret sketch book lusuh di bawah sinar lampu jalanan. Jalan Karet Tengsin, begitu tulisan yang ada di papan tepat disamping dia berjongkok. Matanya menyipit, dagunya bergerak ke atas ke bawah mengikuti gerakan wajah. dari objek lalu ke kertas, lalu ke objek dan selalu berulang. Matanya semakin dipicingkan, dari gelapnya malam dan dari lebarnya jalan 3m, usaha untuk melihat gurat dari sebuah ukiran menjadi hal yang berat.
Seandainya dia pelukis yang diberi indera penglihatan seperti elang, maka akan bersyukur dan menarilah dia. Untung saja, cahaya palsu dari lampu-lampu bohlam tidak takut akan apapun. Sambil menahan beratnya nafas akibat batuk payah yang divonis dokter sok tahu akibat rokok, Lumia mengencangkan syalnya dan mempercepat gerak tangannya.
Angin meniup dengan lembut terasa dingin seperti tubuh merasakan rifampisin, meniup lembaran kertas. Sebuah lukisan nisan dengan uliran bunga di dua sisinya, lalu bunga teratai di tengahnya.
Tulisan: Ayah kami tercinta, Hao Wang…
Telah diganti menjadi,
Dalam Gelap yang Bercahaya, Lumia Ardina.









