Friday, July 25th, 2008
Cerita kebosanan
14 December 2007 | Pujangga baso | 11 Comments

Hidup sudah sangat membosankan

Langit sudah tidak tampak seperti langit
Lelaki sudah tidak tampak seperti lelaki

Puisi sudah tampak seperti sampah
Petuah pun tampak seperti comberan

Hasrat menjadi binatang
Pun punah
Kalau akhirnya mati juga dalam rantai makanan

Gairah menjadi hijaunya daun
Pun kandas tak terkira
Kalau akhirnya harus meranggas di musim gugur

Niat hati menjadi iblis
Pun terkunci
Kalau harus terkungkung dalam kegaiban alam

Lalu ku berteriak,

MALAIKAT!

…tapi malaikat tidak bersenggama, kan ?

Kebosanan yang berbahagia.

Wajah langit hari ini
13 December 2007 | Pujangga baso | 5 Comments

Sore ini langit hitam

Turun selaksa embun

Tapi tak hendak melankolis

Hanya menusuk relung bumi

Seperti bulir sakit hati.

*13 Nov’07 , sebelum nge-shut laptop, pulang…

Orang-orang maya
13 November 2007 | Pujangga baso | 14 Comments

Orang-orang maya ini sudah mulai berkelompok
menyusun strategi, terkekeh, tersentak, terendam dalam bilasan tulisan

Orang-orang maya ini sudah tidak percaya
bahwa dunia diciptakan dalam kesendirian

Lagi

Orang-orang maya ini
sudah menyimpan tubuhnya sendiri dalam file .txt
dan tertawa riang karenanya
Perayaan gaduh dalam perhatian

Kemudian

Orang-orang maya ini bersama-sama
meruntuhkan kerajaan kakek dan nenek.

Usah maafkan
12 November 2007 | Pujangga baso | 10 Comments

Sebuah tanda tidak akan menjadi makna tanpa adanya rasa tersakiti.
Lalu sebuah hikmah pun menjadi punya arti dan kemudian menutupi perasaan kalah terhina.

Aku memang bisa menerima walau hanya di bibir ini. Sebuah tanda yang kuartikan dalam kegalauan rasa. Ketidakpastian kemudian menjadi sesuatu yang pasti saat semuanya terkatakan dengan jelas. Waktu tlah berubah wujud menjadi sebuah ruangan yang berdimensi, karena pejalnya sebuah pernyataan.

Ini memang bukan sekedar sementara. Kejujuran akan menorehkan luka sampai waktu yang akan menghilangkan jejaknya. Wacana palsu pun akan terbuka dan disambut dengan decak kagum, bagaimana kepalsuan itu disembunyikan. Sebuah kecerdasan yang menenggelamkan kemanusiaan.

Lalu hiduplah rasa bersalah. Yang berakhir dengan merendahkan diri dalam permintaan maaf. Maaf pun kembali menjadi sebuah wacana palsu penghindaran diri. Dengan maaf, terbukalah semua pintu rasa kasihan.

Selalu begitu dan berputar di setiap penyangkalan atas dosa yang dimaafkan. Dan atas nama kejujuran.

Cahaya pun kan Tetap Ada
08 November 2007 | Pujangga baso | 6 Comments

Lumia mengambil pinsilnya. Tangannya bergerak mencorat coret sketch book lusuh di bawah sinar lampu jalanan. Jalan Karet Tengsin, begitu tulisan yang ada di papan tepat disamping dia berjongkok. Matanya menyipit, dagunya bergerak ke atas ke bawah mengikuti gerakan wajah. dari objek lalu ke kertas, lalu ke objek dan selalu berulang. Matanya semakin dipicingkan, dari gelapnya malam dan dari lebarnya jalan 3m, usaha untuk melihat gurat dari sebuah ukiran menjadi hal yang berat.

Seandainya dia pelukis yang diberi indera penglihatan seperti elang, maka akan bersyukur dan menarilah dia. Untung saja, cahaya palsu dari lampu-lampu bohlam tidak takut akan apapun. Sambil menahan beratnya nafas akibat batuk payah yang divonis dokter sok tahu akibat rokok, Lumia mengencangkan syalnya dan mempercepat gerak tangannya.

Angin meniup dengan lembut terasa dingin seperti tubuh merasakan rifampisin, meniup lembaran kertas. Sebuah lukisan nisan dengan uliran bunga di dua sisinya, lalu bunga teratai di tengahnya.

Tulisan: Ayah kami tercinta, Hao Wang…

Telah diganti menjadi,

Dalam Gelap yang Bercahaya, Lumia Ardina.

Previous Entries -