




Pertemuan maha agung tercipta
Luna terbunuh mati di balik sayap unicorn
Berdarah perak.

Ku lihat ke bawah
orang-orang tua renta
menyapu lantai yang rata dengan tanah
Pegangan gentong gerabah dipakul
rumput-rumput kering musim panas
lalu mereka jatuh terembab
Tawaku melihat orang seumur di bawah
dengan kerutan di sudut mata, dagu yang tidak lagi kencang
menari-nari dalam ketuaan usia
Istanaku terlalu tinggi
terukur dari pusat bumi
Mereka harus mendongak ke atas
untuk melihat yang tak kan mati.

Matahari perlahan bergeser ke timur
meninggalkan gairah hati
berdebu salju dan hujan es
Tergambar setengah bejana perak di langit
Lalu Venus mengalahkan sinarnya
Menjadi bukan apa-apa
Hanya batuan pucat asing di angkasa
Aku memang harus bangkit
walau terbangun hanya setengah nyawa
Sampai suatu malam
Di awal bulan Oktober
Ku pasti kan benderang
*6.30 WIB, di perjalanan rutin menuju kantor

Suara ini,
Alokha.
Begitu bening seperti mata air dongeng Acoptus.
Membelah giselle seperti mata pisau megalion.
Alokha.
Ku begitu merindukan.
Yang tak terjamah, putih layaknya api gunung Cordus.
Dan dentingan Sherin
membuat getaran di ragaku dan aku menangis.
Hanya mendengar namanya,
ku bisa rasakan panasnya darah ini
tapi tetaplah beku
Alokha.
Yang tak tersentuh.
Yang membuatku yakin ada Penciptaan Maha Dahsyat dibalik sosok sempurna itu.
…

Kini baru kusadari.
Cinta hanya kewajiban mengabdi kepada Penguasa.Dan aku, tanpa penguasa.
Aku tanpa Cinta.Telah kuhempaskan Arsten*
Di hadapanmu.Ambillah.
Suatu hari nanti.
Megalion* ini akan datang padamu.
Menghempas jantungmu.
Genggamlah Arsten dengan kuat.
Megalion akan menolaknya. Sepasang Gisele* takkan membunuh.
Kalau begitu
Akulah yang pasti membunuhmu.
Arsten dan Megalion : Pasangan Pedang yang ditempa dengan besi panas bintang Calderon oleh Momojee. Terpisah setelah Megalion basah oleh darah Momojee lalu terbuang ke sabuk dalam asteroid. Kini, Arsten ada di tangan Voderos, dan Megalion dimiliki Demonoid.
Gisele : Ruh.









